The Godfather “Sang Godfather” – Mario Puzo

Pencerahan yang di dapat saat akhir tahun 2017, keinginan dan kemauan untuk menulis blog lagi muncul saat mengingat sebuah petuah “hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan hal yang biasa-biasa saja tanpa berkarya menghasilkan sesuatu”. Padahal hampir setahun blog ini tidak pernah terjamah dan sekarang posisi sudah di Denpasar hampir berjalan 2 bulan, sebenarnya ingin datang ke acara Ngobrolin Hukum dengan tema “Sejauh Mana Negara Melindungi Hak Digital Warga” yang diselenggarakan oleh YLBH-LBH Bali, SAFEnet, BaleBengong, dan Bali Blogger Community di Taman Baca Kesiman Denpasar tapi apalah daya terkendala waktu yang acara tersebut dimulai dari pukul 15.00-18.00 WITA, secara seorang buruh kantor pasti tidak mungkin meminta ijin pulang lebih awal sesuka hati. Sangat disayangkan tidak disiarkan live streaming, semoga akan lebih banyak acara seperti ini yang diadakan (kalo bisa di akhir pekan sih).

Oke cukup dengan curhat colongannya kembali lagi pada kesempatan ini ingin merekomendasikan sebuah novel. Kenapa hanya merekomendasikan? Karena novel ini udah lama diterbitkan tapi baru sempat memiliki setelah dapet kado ultah dari si doi haha.  Novel The Godfather karangan Mario Puzo. Sang Godfather sendiri adalah pemimpin Mafia keturunan Sisilia yang menjalankan bisnis ilegal, perjudian, taruhan pacuan kuda dan serikat buruh di New York, Amerika Serikat. Novel ini juga telah diangkat menjadi 3 seri film dengan judul yang sama yaitu “The Godfather I”, “The Godfather II” dan “The Godfather III”.

IMG_20171231_211242

Judul : The Godfather Pengarang : Mario Puzo Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Keterangan : Cetakan Keempat, Maret 2017 (680 hlm)

Continue reading

Advertisements

Aksi Solidaritas untuk Kendeng

img_8305

Aksi solidaritas yang dilakukan pada tanggal 14 Januari 2017 jam 09.00-21.00 di Alun-Alun Kota Jember untuk perjuangan dulur Kendeng dan keselamatan Ibu Pertiwi yang di prakarsai oleh Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jember, Komunitas Tanah Liat, dan PMII cabang Jember. Aksi ini mengajak masyarakat Indonesia khususnya Jember untuk terlibat aksi solidaritas bagi perjuangan masyarakat Kendeng. Sempat molor dari jadwal yang ditentukan, aksi dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama kemudian dilanjutkan dengan marathon membaca puisi karya Widji Thukul, W.S. Rendra,  hingga puisi ciptaan sendiri kemudian ditutup dengan doa bersama.

Marxisme dan Evolusi Manusia

15420873_10154968964325649_4023839086315289088_n

Berikut ini adalah buku terbaru terbitan IndoPROGRESS untuk menutup tahun 2016 karya Dede Mulyanto (editor IndoPROGRESS bekerja sama dengan penerbit Ultimus (Bandung) yang saya dapatkan gratis versi pdf-nya dengan mengirim nama lengkap ke email redaksi.indoprogress@gmail.com. Untuk mempermudahkan redaksi IndoPROGRESS dan kalian yang ingin mendapatkan buku ini maka akan saya akan memberi link download tersendiri. Dalam buku ini, Dede membahas tentang tesis-tesis Marx dan Engels tentang evolusi manusia dengan kata pengantar yang ditulis oleh Sylvia Tiwon. Buku ini tak bisa disangkal, akan menantang pandangan-pandangan akademik maupun prasangka-prasangka kultural yang telah mapan selama ini.

Continue reading

Organisir!

dsc00545

Negara republik memang terlihat lebih “demokratis” daripada negara-negara lainnya seperti monarki dan otoriter, karena Negara republik memiliki berbagai macam lembaga perwakilan. Namun negara jenis ini membuat struktur dominasi tempat segelintir orang berkuasa atas mayoritas.[1] Jadi lupakan Pancasila sila ke 5 apalagi UUD pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Kalian boleh menggantinya sesuai dengan kehendak kalian, karena Negara telah beriman dan menghamba pada keinginan pasar global.

Continue reading

Fasisme Riwayatmu Kini

Sudah hampir 2 tahun blog ini tidak tersentuh karena tidak ada waktu luang. Begitu juga dengan ide yang terlalu lama diendapkan yang akhirnya menguap tidak menyisakan apa-apa untuk di ingat. Sebenarnya akhir-akhir ini saya merasa jenuh karena harus mengerjakan skripsi yang tak kunjung usai, daripada merasa jenuh tak berkembang tanpa melakukan apa-apa saya memutuskan untuk membaca buku, zine dan menonton film dokumenter. Akhirnya hidayah itu muncul, kemudian saya teringat dan tertarik untuk menulis di blog lagi. Entah kenapa ide itu tidak datang lebih awal, mungkin penyebab utamanya adalah rasa malas yang selalu datang. Hingga suatu saat saya menonton Samin vs Semen besutan Watchdoc yang menceritakan tentang perjuangan ibu-ibu petani Kendeng yang menolak pabrik semen. Dari sinilah saya mendapatkan inspirasi dan teringat kata-kata Wiji Thukul

Sampeyan (anda) itu tidak akan mengerti fasisme sampai sepatu tentara nempel di jidat

Continue reading