Fasisme Riwayatmu Kini

Sudah hampir 2 tahun blog ini tidak tersentuh karena tidak ada waktu luang. Begitu juga dengan ide yang terlalu lama diendapkan yang akhirnya menguap tidak menyisakan apa-apa untuk di ingat. Sebenarnya akhir-akhir ini saya merasa jenuh karena harus mengerjakan skripsi yang tak kunjung usai, daripada merasa jenuh tak berkembang tanpa melakukan apa-apa saya memutuskan untuk membaca buku, zine dan menonton film dokumenter. Akhirnya hidayah itu muncul, kemudian saya teringat dan tertarik untuk menulis di blog lagi. Entah kenapa ide itu tidak datang lebih awal, mungkin penyebab utamanya adalah rasa malas yang selalu datang. Hingga suatu saat saya menonton Samin vs Semen besutan Watchdoc yang menceritakan tentang perjuangan ibu-ibu petani Kendeng yang menolak pabrik semen. Dari sinilah saya mendapatkan inspirasi dan teringat kata-kata Wiji Thukul

Sampeyan (anda) itu tidak akan mengerti fasisme sampai sepatu tentara nempel di jidat

Ya, kata-kata tersebut masih relevan sampai saat ini, malah fasisme di jaman sekarang tidak hanya dilakukan oleh tentara saja. Fasisme gaya baru banyak dilakukan oleh Pemerintah, Satpol PP, Polisi dan ormas-ormas yang galak tak pandang bulu berlagak preman sekalipun.  Kasus yang paling baru terjadi kemarin pada tanggal 17 November 2016, Kontras melaporkan ada  6 orang petani Sukamulya yang ditangkap oleh polisi dengan tuduhan melawan petugas. Di hari itu para petani Sukamulya berusaha mempertahankan tanah mereka secara damai dari pengukuran yang dilakukan aparat gabungan demi kepentingan pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat. Saat ini ada 6 orang petani yang ditangkap telah di BAP, 2 orang diantaranya mengalami luka-luka akibat dikeroyok aparat kepolisian.  Pemerintah hanya bisa import sana sini tanpa berusaha menjadi negara yang berdikari, mereka lupa bahwa tanpa petani mereka bukan apa-apa. Semua orang makan dari hasil bumi yang ditanam oleh petani bukan bandara internasional yang bergengsi. Padahal FAO sebagai organisasi pangan dan pertanian di bawah naungan PBB mewanti-wanti bahwa akan terjadi krisis pangan global pada tahun 2020.

Fasisme yang dilakukan oleh ormas-ormas galak itu, mereka lakukan hanya untuk Uang yang Maha Esa dan Kekuasaan yang Maha Kuasa berkedok agama, nasionalis, patriotik dan bela negara. Lucunya mereka tak pernah terlihat dalam gerakan rakyat melawan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan Pemerintah dan Korporasi yang selalu menyengsarakan rakyat. Kasus yang sama dengan cerita yang terus diulang-ulang dan masih banyak orang yang doyan melahap cerita semacam itu. Namun saya percaya bahwa masih banyak orang yang waras untuk terus mencari kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu untuk melawan fasisme gaya baru yang semakin berkembang kita harus terus melakukan perlawanan dari yang paling kecil sampai besar. Seperti senjata, otak juga perlu amunisi yang baik agar tetap bisa meneruskan peperangan yang tak tau kapan akan berakhirnya.  Berikut amunisi yang saya dapat untuk disebarluaskan secara gratis seperti udara yang menyejukkan.

cxa3kfzukaa3qv8

https://drive.google.com/file/d/0B2xQIDO8DJJva3JiTkk2MHkzaWs/view

https://drive.google.com/file/d/0B2xQIDO8DJJveWhnM0l4VWxPMFk/view

https://drive.google.com/file/d/0B2xQIDO8DJJvRzRmSHlFaGRMS2s/view

18443554

http://www.libforall.org/pdfs/ilusi-negara-islam.pdf

Terima kasih untuk Morgue Vanguard (Ucok Homicide/Herry Sutresna) telah membagikan infonya dan khususnya AK Press yang telah menggratiskan buku “Militant Anti Fascism a Hundred Years of Resistance”, “Taking Sides” dan “Undoing Border Imperialism” terbitan mereka untuk di download lalu terima kasih juga kepada Anarkis.org telah berbagi info buku “Ilusi Negara Islam” yang diterbitkan oleh LibForAll.org secara gratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s