Organisir!

dsc00545

Negara republik memang terlihat lebih “demokratis” daripada negara-negara lainnya seperti monarki dan otoriter, karena Negara republik memiliki berbagai macam lembaga perwakilan. Namun negara jenis ini membuat struktur dominasi tempat segelintir orang berkuasa atas mayoritas.[1] Jadi lupakan Pancasila sila ke 5 apalagi UUD pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Kalian boleh menggantinya sesuai dengan kehendak kalian, karena Negara telah beriman dan menghamba pada keinginan pasar global.

Masyarakat industri telah hidup bertahun-tahun melalui penjarahan secara membabi-buta terhadap sumber daya alam yang ada. Semua itu dilakukan atas nama  “pembangunan”. Jika pembangunan di identikkan dengan pengerusakan, eksploitasi, penggusuran hanya untuk kepentingan segelintir orang/perusahaan saja mungkin lebih baik tidak ada yang namanya pembangunan. Namun masih banyak orang yang kesurupan setan dengan melontarkan pernyataan “Bro, kalo tidak ada bandara. Nanti kalo mau pergi gimana, bodoh?” atau “Kalo tidak ada pabrik semen. Rumahmu jangan gedung. Rumah gubuk saja. Mau atau tidak?” malah ada yang bertanya perjuangan kawan-kawan yang memperjuangkan lingkungan itu benar terjadi atau tidak hahaha. Masalah sebenarnya adalah model pembangunan yang menuntut hancurnya lingkungan beserta sumber daya alam yang penciptaannya memerlukan waktu puluhan juta tahun lamanya untuk didapatkan kembali.

Kita bisa ambil contoh apa yang terjadi dengan hutan di Indonesia. Menurut data Forest Watch Indonesia pada tahun 2013 hanya tersisa 82 juta hektar hutan akibat deforestasi dari 193 juta hektar pada tahun 1950.[2] Selain itu,  kebakaran hutan yang dianggap sebagai sebuah “bencana” padahal sebenarnya dipicu ekspansi sawit oleh perusahaan-perusahaan. Contoh lainnya adalah pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng. Indonesia sendiri adalah negara penghasil semen, dengan 74 juta ton produksi per tahun. Indonesia berada pada urutan ke lima negara produsen, setelah Tiongkok (2.482 juta), India (286 juta), Amerika Serikat (80 juta) dan Iran (78 juta).[3] Bahan baku semen tidak murah dan tidak mudah didapatkan. Cara mendapatkan bahan baku semen ialah dengan cara mengikis kawasan kars karena di dalamnya terdapat batu kapur yang berfungsi sebagai akuifer air yang memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya. Selama proses pengikisan ini perusahaan mendirikan pabrik. Otomatis penduduk yang bermukim di kawasan tersebut harus dipindahkan dan penduduknya yang bermata pencarian sebagai petani di iming-imingi pekerjaan di pabrik dengan jaminan pasti sejahtera. Di Indonesia hal ini bukan masalah besar, sebab peraturan lingkungan sering berlaku di atas kertas saja meskipun sudah menang di pengadilan tertinggi. Keputusan terakhir tentang penggunaan lahan terletak pada perusahaan dan penguasa setempat. Contoh kasus seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengeluarkan izin baru untuk pabrik semen yang telah dibatalkan MA.

Setelah semua fakta terungkap apakah kita harus diam saja? Mungkin kita diam karena penyakit apatis dan sinisme yang terlanjur menyebar atau sengaja dikembang biakkan agar kita selalu berpikir bahwa “segalanya tak penting bagiku”, “cuma aku yang penting buatku, memangnya kenapa?!”, kemudian berpikir ada orang yang lebih ahli di dalam pemerintahan yang mengatur semua hajat serta masa depan rakyatnya. Dengan cara inilah kekuasaan akan memaksakan kemandegan dan menghambat persaudaraan.

[1] Janet Biehl with Murray Bookchin. 1998. The Politics of Social Ecology: Libertarian Municipalism. Montreal: Black Rose Book

[2] http://nationalgeographic.co.id

[3] https://th.boell.org/en/2016/12/09/semen-kotor-kasus-di-indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s